Jumat, 15 Juni 2012

Teknik Menafsirkan Hasil Tes


TEKNIK MENAFSIRKAN HASIL TES

A.       Teknik Pengolahan Hasil Tes
Banyak guru yang sudah mengumpulkan data hasil tes dari peserta didiknya, tetapi tidak atau belum tahu bagaimana mengolahnya sehingga data tersebut menjadi mubazir, data tanpa makna. Sebaliknya, jika hanya ada data yang relatif sedikit, tetapi sudah mengetahui cara pengolahannya, maka data tersebut akan mempunyai makna. Oleh sebab itu, seorang evaluator harus betul-betul menguasai bagaimana cara memberikan skor yang baik dan benar serta adil sehingga tidak merugikan berbagai pihak.
Setelah melaksanakan kegiatan tes dan lembar jawaban peserta didik diperiksa kebenaran, kesalahan, dan kelengkapannya, selanjutnya menghitung skor mentah untuk setiap peserta didik berdasarkan rumus-rumus tertentu dan bobot setiap soal. Kegiatan ini harus dilakukan dengan ekstra hati-hati karena menjadi dasar bagi kegiatan pengolahan hasil tes sampai menjadi nilai prestasi. Sebelum melakukan tes, guru harus menyusun pdoman pemberian skor, bahkan sebaiknya guru sudah berfikir tentang strategi pemberian skor sejak merumuskan kalimat pada setiap butir soal. Pedoman penskoran sangat penting disiapkan, terutama bentuk soal esai. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisasi subjectivitas penilai.
1.      Cara memberi skor mentah untuk tes subjektif
Dalam bentuk uraian biasanya skor mentah dicari dengan menggunakan sistem bobot.
1.      Bentuk soal uraian
Dalam soal bentuk uraian bebas, pembobotan soal bergantung pada soal yang lain. Pembobotan soal adalah pemberian bobot kepada suatu soal dengan cara membandingkannya dengan soal lain dalam suatu perangkat tes yang sama. Bobot setiap soal ujian yang ada dalam suatu perangkat tes ditentukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang berkaitan dengan materi dan karakteristik soal itu sendiri, seperti luas lingkup materi yang hendak dibuatkan soalnya, esensialitas dan tingkat kedalaman materi yang ditanyakan, dan tingkat kesukaran soal tersebut.
Rumus yang dipakai dalam penskoran bentuk tes soal uraian yaitu:
Rumus :    S = 

Keterangan :
∑X  = jumlah skor
∑S  = jumlah soal

2.      Cara memberi skor mentah untuk tes objektif
Ada dua cara untuk memberikan skor pada soal tes bentuk objektif, yaitu :
a.       Tanpa rumus tebakan (Non-Guessing Formula)
Biasanya digunakan apabila soal belum diketahui tingkat kebaikannya. Caranya adalah menghitung jumlah jawaban yang betul saja. Setiap jawaban yang betul diberi skor 1, dan jawaban yang salah diberi skor 0.
             Jadi, skor = jumlah jawaban yang betul
b.      Menggunakan rumus tebakan
Biasanya rumus ini digunakan apabila soal-soal tes itu sudah pernah diujicobakan dan dilaksanakan sehingga dapat diketahui tingkat kebenarannya. Penggunaan rumus tebakan ini bukan karena guru sudah mengetahui bahwa peserta didik itu menebak, tetapi tes bentuk objektif ini memang sangat memungkinkan peserta didik untuk menebak. Adapun  rumus-rumus tebakan tersebut adalah sebagai berikut :
1.        Untuk item bentuk benar-salah (true- false)
Rumus  : S = R – W
Keterangan :
S = jumlah skor
R = jawaban yang benar
W = jawaban yang salah


2.       Bentuk item pilihan ganda (multiple choice)
Rumus : S = R -
Keterangan :
S     =  skor yang dicari
R  =  jumlah jawaban yang benar
W  = jawaban yang salah
N   = jumlah alternatif jawaban yang disediakan
1           = bilangan tetap

3.      Bentuk soal menjodohkan (matching)
Rumus : S = R
Keterangan :
S = skor yang diperoleh anak
R = jumlah jawaban yang benar

4.       Bentuk soal jawaban singkat (short answer)  dan melengkapi (completion)
Rumus : S = R
Keterangan :
S = skor yang diperoleh anak
R = jumlah jawaban yang benar

Contoh:
Dalam suatu pelajaran, guru mengadakan evaluasi dengan memberikan soal sebanyak 95 soal dengan rincian sebagai berikut:
A.     Pilihan ganda = 30 soal
B.     B – S               = 20 soal
C.     Menjodohkan             = 20 soal
D.     Melengkapi     = 20 soal
E.      Uraian                         = 5 soal
Siswa A dapat menjawab soal yang benar terdapat pada table berikut:
Jenis soal
Jawaban benar
Jawaban salah
Pilihan ganda
15 soal
15 soal
B –S
15 soal
5 soal
Menjodohkan
10 soal
10 soal
Melengkapi
10 soal
10 soal
Uraian
5 soal
0 soal

Cara menskornya yaitu:
a.       Pilihan ganda
Rumus : S = R -  = 15 -  = 15 – 5 = 10
b.      B – S
S = R – W = 15 – 5 = 10
c.       Menjodohkan
S = R = 10
d.      Melengkapi
S = R = 10
e.       Uraian
S =   =  = 10

3.       Skor total (Total Score)
Skor total adalah jumlah skor yang diperoleh dari seluruh bentuk soal setelah diolah dengan rumus tebakan (guessing formula). Skor ini disebut skor mentah (raw score). Setelah dihitung skor mentah setiap peserta didik, langkah selanjutnya adalah mengolah skor mentah tersebut menjadi nilai-nilai jadi. Pengolahan skor dimaksudkan untuk menetapkan batas lulus (passing grade) dan untuk mengubah skor mentah menjadi skor terjabar (drived score) atau skor standar.
Contoh:
Dalam soal di atas, maka yang dinamakan skor total yaitu penjumlahan dari semua skor. Jika soal di atas di jumlahkan maka hasil skor total yaitu 50.

B.       Pengolahan Data Hasil Tes Menurut PAP dan PAN
Setelah diperoleh skor setiap peserta didik, guru hendaknya tidak tergesa-gesa menentukan prestasi belajar atau nilai peserta didik yang didasarkan pada angka yang diperoleh setelah membagi skor dengan membagi soal, karena cara tersebut dianggap kurang proporsional. Misalnya, seorang peserta didik memperoleh skor 60, sementara skal nilai yang digunakan untuk mengisi buku rapor adalah skala 0-10 atau skala 0-5, maka skore tersebut harus dikonversikan terlebih dahulu menjadi skor standar sebelum ditetapkan sebagai nilai akhir. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa ada dua pendekatan penafsiran hasil tes, yaitu pendekatan Penilaian Acuan Patokan (PAP) dan pendekatan Penilaian Acuan Norma (PAN).
1.      Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada apa yang dapat dilakukan oleh peserta didik. Dengan kata lain, kemampuan-kemampuan apa yang telah dicapai peserta didik sesudah menyelesaikan satu bagian kecil dari suatu keseluruhan program. Jadi, PAP meneliti apa yang dapat dikerjakan oleh peserta didik dan bukan membandingkan seorang peserta didik dengan teman sekelasnya, melainkan dengan suatu kriteria atau patokan spesifik. Kriteria yang dimaksud adalah suatu tingkat pengalaman belajar yang diharapkan tercapai sesudah selesai kegiatan belajar atau sejumlah kompetensi dasar yang telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum kegiatan belajar berlangsung.
Contoh :
Diketahui skor 52 orang peserta didik sebagai berikut :
32
20
35
24
17
30
36
27
37
50
36
35
50
43
31
25
44
36
30
40
27
36
37
32
21
22
42
39
47
28
50
27
43
17
42
34
38
37
31
32
22
31
38
46
50
38
50
21
29
33
34
29









Pedoman konversi yang digunakan dalam mengubah skor mentah menjadi skor standar pada norma absolut skala 5 adalah : 
Tingkat penguasaan
Skor standar
90 % - 100 %
A
80 % - 89 %
B
70 % - 79 %
C
60 % – 69 %
D
>59%
E

Jika skor maksimum ditetapkan berdasarkan kunci jawaban  = 60, maka penguasaan  90% = 0, 90 x 60 = 55, penguasaan 80% = 0,80 x 60 = 48, penguasaan 70% = 0,70 x 60 = 42, penguasaan 60% = 0,60 x 60 =36. Dengan demikian diperoleh tabel konversi sebagai berikut :


Skor mentah
Skor standar
54 -60
A
48 -53
B
42 -47
C
36 – 41
D
>35
E

Jadi, peserta didik yang memperoleh skor 50 berarti nilainya B, skor 35 nilainya E (tidak lulus), skor 44 nilainya C, dan seterusnya.

2.      Penilaian Acuan Norma (PAN)
Dalam penilaian acuan norma, makna angka (skor) seorang peserta didik ditemukan dengan cara membandingkan hasil belajarnya dengan hasil peserta didik lainya dalam satu kelompok atau kelas. Peserta didik dikelompokkan berdasarkan jenjang hasil belajar sehingga dapat diketahui kedudukan relatif seorang peserta didik di bandingkan dengan teman sekelasnya. Tujuan PAN adalah untuk membedakan peserta didik atas kelompok-kelompok tingkat kemampuan, mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi.
Langkah-langkah pengolahan data dengan pendekatan PAN sebagai berikut :
a. mencari skor mentah setiap peserta didik
b. menghitung rata-rata (X) aktual dengan rumus :
X = Md + (i
Keterangan :
Md  = mean duga 
f    = frekuensi
d   = deviasi
fd  = frekuensi kali deviasi
n = jumlah sampel
i    = interval
c.Menghitung simpangan baku (s) aktual dengan rumus:
s = 

d.Menyusun pedoman konversi
contoh :
Diketahui  52 peserta didik mengikuti UAS mata pelajaran Bahasa Inggris dan memperoleh skor mentah sebagai berikut :
32
20
35
24
17
30
36
27
37
50
36
35
50
43
31
25
44
36
30
40
27
36
37
32
21
22
42
39
47
28
50
27
43
17
42
34
38
37
31
32
22
31
38
46
50
38
50
21
29
33
34
29









Pertanyaan: tentukan nilai peserta didik dengan pendekatan PAN.
Langkah-langkah penyelesaian ;
a.       Mengukur skor terkecil sampai dengan skor terbesar seperti berikut:
17
25
30
34
37
42
50
17
27
31
34
37
42
50
20
27
31
35
37
43
50
21
27
31
35
38
43
50
21
28
32
36
38
44

22
29
32
36
38
46

22
29
33
36
39
47

24
30
36
36
40
50


Selanjutnya data ini ditabulasikan dalam distribusi frekuensi. Yaitu mengelompokkan data sesuai dengan kelas interval. Untuk membuat kelas interval dapat digunakna rumus Sturges. Adapun langkah-langkah perhitungannya adalah sebagai berikut :
1). Mencari rentang (range), skor terbesar dikurangi skor terkecil.
Skor terbesar  = 50
Skor terkecil   = 17
Rentang         = 33
2). Mencari banyak kelas interval :
Banyak kelas  = 1 + (3,3) log.n
                      = 1 + (3,3) log 52
= 1 + (3,3) (1,7160)
= 1 + 5,6628
= 6,6628
= 7  (dibulatkan)
3). Mencari interval kelas :
I = rentang/ banyak kelas = 33/6,6628 = 4,9529 = 5 (dibulatkan)
4). Menyusun data distribusi frekuensi :

Distribusi frekuensi skor
Kelas interval
Tally
frekuensi
47 – 51
||||| |
6
42 – 46
||||| |
6
37 – 41
||||| |||
8
32 – 36
||||| ||||| ||
12
27 – 31
||||| ||||| |
11
22 – 26
||||
4
17 – 21
|||||
5
Jumlah
52


b.      Menghitung rata-rata aktual :

 Menghitung rata-rata dan simpangan baku aktual:
Kelas interval
F
d
Fd
F(d)
47 – 51
6
+3
18
54
42 -46
6
+2
12
24
37 – 41
8
+1
8
8
32 – 36
12
0
0
0
27 – 31
11
-1
-11
11
22 – 26
4
-2
-8
16
17 – 21
5
-3
-15
45
Jumlah
52

4
158

X =Md + (i = 34 + (  ) 5 = 34,38

c.       Menghitung simpangan baku

s =  =   =  =  = 8,79

d.      Menyusun pedoman konversi
Pedoman konversi yang digunakan adalah skala lima :
                                                 
­ + 1,5 (s) = 34,38 + 1,5 (8,79) = 47,57 
 + 0,5 (s) = 34,38 + 0,5 (8,79) = 38,78
 – 0,5 (s) = 34,38 – 0,5 (8,79) = 29,99
 – 1,5 (s) = 34,38 – 1,5 (8,79) = 21,20




DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zaenal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Kasiran. 1984. Teknik Analisa Item. Surabaya: Usaha Nasional
Mardapi, Djemari. 2008. Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Nontes. Yogyakarta: Mitra Cendikia
Nurgiyantoro, Burhan. 2011. Penilaian Pembelajaran Bahasa. Yogyakarta: BPFE


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar